ruang berkisah kita
Wednesday July 23rd 2014

NARASI MUSIK DAN IDEOLOGI

NARASI  MUSIK  DAN IDEOLOGI

Acep Iwan Saidi

 

Agus Suwage: Blues untuk Allah

Musik adalah sebuah narasi. Jika tidak begitu, musik tentu bukan merupakan rangkaian nada, bukan operasi dari tangga nada. Di dalam tangga nada itulah musik mengalur dari rendah ke tinggi, dari rendah ke sedang, dari cepat ke lambat, bergerak dari oktaf yang satu ke oktaf lainnya, demikian seterusnya.  Dengan kata lain, terdapat plot yang menjadi tulang punggung beroperasinya nada-nada tersebut. Ini baru satu bagian kecil.  Pada level berikutnya, sebuah aransemen musik nyaris selalu memiliki intro, ia memiliki awalan; juga ada momen untuk kembali ke awal.

 

Jika musik merupakan sebuah narasi sedemikian, jelas ia menyampaikan pesan dan makna tertentu. Di situ, musik menjadi sarana komunikasi. Di dalam proses komunikasi musik, pesan dan makna  terbangun melalui negoisasi antara pendengar dengan teks (musik) yang didengarnya. Dengan kata lain, pesan dan makna dikonstruksi oleh proses signifikasi (tafsir atas tanda). Tafsir ini jelas bersingggungan dengan latar belakang berbagai kode pengetahuan—termasuk juga aspek psikologi dan  ideologi—yang dimiliki si pendengar. Bagi orang sakit gigi, misalnya, segala jenis musik besar kemungkinan akan terdengar sebagai keributan yang mengganggu. Bagi seseorang dari strata sosial tertentu, musik dangdut mungkin dimaknai sebagai selera pinggiran, jorok, dan karena itu rendah.
Itu jika kita melihat musik dari perspektif pendengar. Dengan kata lain, musik yang ditafsirkan. Tapi, cara melihat ini tentu saja berhubungan secara timbal balik dengan bangunan musik itu sendiri sebagai teks yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan, musik sebagai subjek sebuah kebudayaan. Pada konteks ini, siapapun yang menafsir, tentu ia tidak bisa mengumbar  subjektivitas secara membabi-buta. Ia dan musik yang ditafsirkannya berada di bawah superstruktur kebudayaan. Hal ini menjadi kian terasa menonjol jika kita bicara soal musik tradisi. Musik degung, misalnya, takbisa ditafsir semena-semena tanpa si penafsir mengetahui kebudayaan masyarakat yang melahirkan degung. Demikian dengan jenis musik lainnya.

Musik yang telah menjadi “anak kandung kebudayaan” demikian pastilah memiliki sifat “memanggil” individu dalam kebudayaan bersangkutan. Proses pemanggilan ini sama dengan proses memberi masyarakat tersebut sebuah posisi subjek. Jika Anda mendengar musik dangdut lalu Anda merseponsnya dengan menggoyangkan pinggul, misalnya, berarti musik dangdut telah menjadi subjek Anda. Pada tingkatan tertentu, ketika kesubjekan itu telah demikian tertanam pada diri Anda, tubuh Anda bisa refleks (tak sadar) meresponsnya. Mungkin juga musik  tertentu bisa menjadi “semacam terapi” yang membuat Anda merasa damai. Tokoh Eko, yang sedang mengembara di Amerika, dalam Novel Jalan Menikung karya Umar Kayam, misalnya, mengambil siter (alat musik Jawa) dan memainkan beberapa tembang Jawa untuk menentramkan hatinya:

“Malam itu, untuk menentramkan hatinya yang masih galau karena surat bapaknya dan jaminan dari keluarga Levin mendorongnya untuk tidak segera tidur, tetapi memainkan siternya. Dengan memainkan beberapa lagu Jawa yang dikenalnya Eko berharap dapat menyeimbangkan perasaan dan pikirannya (hal. 25-26)

 

Tampak di situ bahwa musik telah menjadi sebuah narasi, yakni menceritakan sebuah alamat dari mana seorang individu tertentu berasal. Narasi itu sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Lyotard, adalah inti pengetahuan. Dunia, dalam perspektif ini, merupakan urutan peristiwa yang membentuk kesatuan konsep, makna, dan nilai meskipun peristiwa-peristiwa yang terjadi tampak seakan terpisah-pisah. Musik Siter bagi Eko di atas, misalnya, seperti berdiri sendiri, sesuatu yang parsial, tapi sebetulnya keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari berbagai peristiwa lain dalam kompleksitas kebudayaan Jawa. Di situlah, lantas, Siter menjadi bagian dari anyaman, gagasan, konsep, kode, dan juga ideologi masyarakat Jawa.

 

Dari Penanda ke Petanda

Pada kasus musik Siter yang dimainkan Eko tadi bisa disimpulkan bahwa Siter adalah sebuah penanda. Ia menandai sebuah konsep besar di baliknya, yakni kebudayaan Jawa. Dengan begitu, beranalogi pada Judith William yang mengkonsepsi cara kerja iklan, Siter menjadi semacam objek yang ditransaksikan (ditukar) dengan sesuatu yang lebih besar. Harga (derajat) siter (pesan, makna, hingga nilai tukar ekonomi), dengan demikian, terletak pada setinggi apa konsep yang ditukarnya, juga, kemudian, sejauh mana konsep tersebut bertahan dalam perjalanan peradaban. Sepanjang konsepsi kejawaan dapat bertahan di tengah-tengah peradaban global, sepanjang itu pula orang memberi makna pada siter.

Model pertukaran seperti itu, dalam ruang, waktu, dan cara yang berbeda, juga tampak menonjol dalam kehidupan kontemporer. Harga gitar Michael Jackson yang dijual di pasar lelang, misalnya,  menjadi tinggi bukan semata-mata gitarnya sebagai sebuah objek (benda), melainkan karena ia merupakan warisan si Raja musik  pop dunia. Dan ia akan bertahan terus—tentu saja juga seluruh elemen yang berkaitan dengannya—sepanjang wicara tentangnya belum mati. Maka musik menjadi mitos di situ (lihat juga uraian Roland Barthes tentang mitos).

Masih terkait hal tersebut, menarik mengambil contoh lain, (maaf harus kembali mengutip amsal dari  kehidupan masyarakat Jawa), yakni dua peristiwa dalam film Sang Pencerah karya Sutradara Hanung Bramantyo. Dalam film ini, ada dua jenis musik yang dilibatkan sebagai bagian dari tema (bukan sekedar ilustrasi), yakni musik hadrokh (bukan hard rock!) yang menggunakan alat musik rebana dan musik biola. Musik rebana digunakan sebagai pengiring kepergian tokoh Darwisy atau kemudian dikenal sebagai K.H. Ahmad Dahlan ke tanah suci Islam (Mekkah), sedangkan biola merupakan alat musik yang dibawa Ahmad Dahlan dari Arab dan lantas digunakannya sebagai salah satu alat untuk mengajarkan agama.

Hemat saya, Bramantyo tidak memilih dua alat dan jenis musik tersebut dan menempatkannya di ruang hampa. Dua jenis musik itu adalah penanda dari dua narasi yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh (Wikipedia. Org). Rebana, dengan begitu, adalah penanda dari Islam yang telah berakulturasi dengan kebudayaan Melayu, dan menjadi lebih spesifik ketika ia berada di Jawa. Suara talunya menghentak ringan dan menimbulkan efek riang. Ia menjadi semacam representasi dari suara berbincang, gerundeng sebuah kerumunan, penanda dari karakter masyarakat kolektif.

Sedangkan biola nyaris sebaliknya. Kita tahu bahwa embrio alat musik ini memang berasal dari Asia Tengah yang pada Abad ke-7 menyebar sampai ke Arab. Akan tetapi, ia telah mengalami berbagai perubahan dan metamorfosa. Biola modern sendiri baru diciptakan pada abad ke-16 di Italia.  Pendek kata, biola menjadi tidak identik dengan Islam, dengan Timur, bahkan justru sebaliknya: ia berada di poros yang bersebrangan. Jika rebana menjadi deiksis dari suara kolektif yang ramai, dekoratif, dan ornamental; biola justru menunjuk pada kesendirian (individualistik), suaranya mengalun dari “dalam dan ke dalam individu”.

Tampak di situ bahwa antara rebana dan biola menjadi bukan hanya artifak semata, bukan sekadar alat dan jenis musik, melainkan sebagai penanda dari kompleksitas kebudayaan yang berbeda. Dalam perkembangannya, hubungan keduanya juga menjadi sangat jlimet. Sebagaimana akan saya jelaskan di belakang nanti, kita tidak akan selesai dengan hanya memosisikannya sebagai pasangan yang berlawanan (binary opposition), melainkan juga sebagai dua hal yang bisa merentang dalam spektrum yang sama, tapi dibedakan dalam jarak.

Jika mula-mula musik berposisi sebagai penanda, pada proses berikutnya, ketika makna dan nilai budaya telah tertanam mengakar di dalamnya, musik  akan bergerak  mengambil tempat sebagai petanda. Musik adalah konsep, referensi dari ruang dan waktu kebudayaan. Pada konteks ini, jika Anda Jawa maka referensi musik Anda adalah siter, gamelan, dan musik lain yang telah menjadi mitos masyarakat tersebut. Demikian seterusnya, jika Anda China, Amerika, Eropa, juga jika Anda hidup di abad klasik, modern, posmodern, dan seterusnya. Musik Anda adalah gagasan, konsep, cara pandang, dan hal-hal lain yang terkait dengan diri Anda.

 

Dari Narasi Besar ke Narasi Kecil

Beberapa contoh musik yang diuraikan di atas, pada ruang dan waktunya masing-masing, sepanjang diyakini sebagai penanda dan petanda,  adalah narasi besar (grand narrative). Narasi Besar, seperti dijelaskan Lyotard (dalam Piliang, 2011),  adalah narasi yang dalam pengoperasian dan pembentukan legitimasi dirinya bersandar pada fondasi-fondasi besar, seperti spirit, makna, subjek, rasionalitas, humanitas, universalitas, Tuhan, logos dan telos. Bagi orang Jawa, misalnya, rebana adalah musik yang diyakni berfondasi pada nilai sedemikian. Rebana adalah “suara spiritualitas”, ia menjadi semacam generator yang menghadirkan Tuhan (hubungan vertikal) sekaligus menghadirkan aura guyub, kolektivitas (horisontal). Ia juga menyapa alam tropis: sawah, gunung, dan lain-lain yang dekoratif. Di situ, rebana menjadi musik yang meruang dan mewaktu sekaligus.

Sebaliknya, biola, pada ruang dan waktu itu—setidaknya ruang dan waktu cerita dalam film Sang Pencerah—, meskipun hadir pada waktu yang sama, bagi orang Jawa tentu saja berasal dari ruang yang berbeda, bahkan berhadapan. Akibatnya, ketika ia dihadirkan Ahmad Dahlan di hadapan Tuhan yang sama (Islam), alat musik itu  tetap dianggap yang lain; ia menghadirkan Tuhan lain, ia kafir. Maka Ahmad Dahlan pun lantas dijuluki kyai kafir.

Selanjutnya, apakah kemudian biola menjadi sebuah narasi kecil? Untuk sampai pada jawaban atas pertanyaan ini, mau tidak mau kita harus masuk pada jalan yang melingkar. Bagi masyarakat Jawa, atau bahkan secara lebih luas Nusantara, Siter, rebana, dan jenis alat musik lain dalam Ruang budaya ini, pada Waktu itu, seperti telah disinggung, adalah narasi besar.  Dengan kata lain, kala itu musik tersebut mampu menanamkan makna dan nilai dengan kuat karena terlindungi oleh barikade ruang dan waktu yang kokoh.

Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya, barikade tersebut runtuh, pilar-pilar ruang budaya ambruk atau setidaknya retak. Kebudayaan akhirnya hanya menjadi soal waktu (jika kita tidak mau menyebutnya waktu orang lain). Biola datang bersama waktu tersebut. Biola hadir bersama datangnya waktu modern (present tense, bahkan future: modernisme), sedangkan siter, rebana, dan lain sejenisnya tergeser ke waktu lampau (past tense, tradisi). Di situ biola menjadi metonimi dari sebuah waktu yang dominan, yang digerakkan oleh sebuah tenaga besar ilmu pengetahuan baru yang datang dari seberang (dalam konteks film Sang Pencerah, modernisme Islam muncul dari Perancis, Mesir,  Mekkah, dan lantas ke tanah Jawa).

Dengan tatapan selintas tersebut tampak bahwa yang menjadi narasi besar adalah biola (modernisme). Ia mampu memborbardir ruang (juga sebenarnya waktu) kita. Namun, lantas kita tahu kemudian, bahwa waktu bergerak terus (entah ke depan entah melingkar) hingga hari ini kita sedang berada dalam waktu lain (orang menyebutnya posmodernisme, posposmodernisme, abad digital, dan lain-lain). Dalam waktu ini, biola, sebagai penanda modernisme, jelas posisinya tergerogoti, ia terus-menerus dipertanyakan, dimain-mainkan, dan dalam banyak hal diruntuhkan.

Yang menarik kemudian, siter atau biola yang dikalahkan oleh waktu itu lantas tidak menjadi narasi kecil secara sendiri-sendiri. Pada kasus siter, misalnya, ketika ia tergeser ke sudut-sudut ruang kebudayaan, ia tetap berjalan dalam rumus waktunya sendiri, merayap di wilayah pinggiran (feriferi). Ia bertahan hidup hingga akhirnya, di ujung modernisme yang dilaluinya, ia bertemu lagi dengan biola dalam konteks yang berbeda. Pertemuannya kini tidak lagi dalam posisi berhadap-hadapan, melainkan justru dalam sebuah “konspirasi” untuk menghantam narasi besar, menghancurkan waktu modernisme. Konspirasi inilah yang disebut sebagai  narasi kecil (small narrative), yakni setiap permainan bahasa yang bersifat heterogen, yang dibangun melalui institusi yang plural, yang mengacu pada aturan-aturan main lokal, yang di dalamnya ada penghargaan akan perbedaan, keunikan tempat, yang marginal, dan toleransi terhadap incomensurability (Lyotard, dalam Yasraf, ibid).

Namun pun begitu, dalam konteks perkembangan musik di Indonesia, situasi demikian sebenarnya tidak berlangsung secara meluas dan terbuka. Hanya kelompok-kelompok tertentu, dan relatif kecil, yang melakukannya. Saya tidak mengatahui dengan persis apakah kelompok-kelompok musik underground di kita melakukan perlawanan dalam konteks ini, atau masih setia melanjutkan dan memperluas narasi kecil yang berasal dari “ruang dan waktu” asalnya, yakni perlawanan atas kemapanan modernisme di Barat, yang di kita, barangkali masih menetap di kota-kota besar. Maksud saya, apakah arransemen musik underground itu juga memasukkan “irama masa lalu” sebelum datangnya biola, zaman ketika siter masih berjaya.

Musik, Sebuah Ideologi

Jika harus kembali ke awal,  sepanjang uraian di atas, kiranya saya  telah menghubungan persoalan musik dengan ideologi. Ketika narasi didefinisikan sebagai inti pengetahuan dan ketika musik turut secara signifikan  mengkonstruksi narasi besar dus narasi kecil, ketika itu kita sedang berbicara soal ideologi  dalam musik. Ideologi itu sendiri, secara sederhana bisa didefinisikan sebagai the science of idea, pengetahuan tentang ide-ide (yang ideal) yang di dalamnya tidak lain merupakan seperangkat keyakinan akan sesuatu. Merujuk pada Althusser, keyakinan tersebut ditanamkan melalui dua perangkat, yakni Repressive State Apparatuses (RSA) dan Ideological State Apparatuses (ISA). Perangkat pertama bersifat represif dan bekerja melalui kekuasaan, sedang yang kedua bersifat persuatif dan karena itu bekerja dengan cara mempengaruhi. Musik merupakan perangkat yang bekerja di wilayah ISA.

Namun, pada ranah ISA, perangkat itu sekaligus bisa menjadi substansi. Dalam uraian tentang pergerakan penanda ke petanda di atas jelas bahwa musik bukan lagi sekedar perangkat (Penanda), melainkan juga substansi (petanda). Sebab musik menjadi ideologi sedemikian, ia akan dianggap mengganggu jika kehadirannya menggoyang ideologi yang lain. Contoh kasus ini terjadi di Indonesia, yakni ketika melalui pidatonya pada 17 Agustus 1959 yang berjudul “Menemukan Kembali Revoulsi Kita” Soekarno melarang musik yang berasal dari Barat. Mulai Oktober 1959, seluruh RRI menarik lagu berirama rock ‘n  roll, cha cha cha, dan mambo (Mulyadi, 2011).

Ideologi,  dalam meraih penganutnya—sebagaimana dibahas Althusser—bersifat memanggil dengan menggoda, yakni dengan cara memberikan individu sebuah posisi, mentransfer subjek pada individu sampai batas terdalam, yakni posisi itu diyakni sebagai sebuah kebenaran oleh penganutnya. Pada titik inilah, kemudian, ideologi melahirkan subjektivitas dan kebenaran palsu: sesuatu diyakini benar padahal belum tentu.

Ideologi juga berkerja dengan awas, artinya selalu bersiaga dari  kemungkinan datangnya kebenaran lain. Situasi ini menyebabkan ideologi bekerja dalam kerangka pertentangan dengan menempatkan diri yang paling benar: Pancasila benar versus komunis salah; siter Islam versus biola kafir, biola tinggi (modern) versus siter rendah (tradisi), dan seterusnya. Dengan demikian, ideologi bekerja dalam gelanggang pertempuran secara terus-menerus; saling menghegemoni, saling mendominasi.

Lantas, dalam situasi itu, di manakah posisi musik populer, dalam hal ini terutama di Indonesia. Tentu saja ideologi musik populer adalah pasar. Dipertentangkan dengan musik modern (modernisme), musik populer jelas tidak bernilai, massal, selera rendah. Tapi kini, ketika nilai-nilai tengah diriuntuhkan, musik populer pun bergerak ketengah, berkelindan, membangun konspirasi dengan berbagai pihak termasuk dengan musik modren yang dianggap bernilai: ia bersama-sama meruntuhkan nilai itu sendiri.

Pertanyaannya, ketika nilai telah diruntuhkan, konstruksi apa sebenarnya yang termunculkan. Kita melihat semuanya memang bergerak pada permainan tanda yang meminggirkan nilai, menghancurkan logos. Jika sudah begitu, ideologi kita hari ini, kiranya adalah ketiadaan ideologi itu. Ini mungkin hanya sebuah permainan bahasa, seperti juga permainan musik.

Tapi, sayup-sayup kini mulai terdengar, beberapa orang tengah berjalan ke dalam keheningan, mencari subjeknya kembali, menggali eksitensinya kembali. Dalam musik, barangkali itu adalah senyap, ketika bunyi adalah sunyi atau sebaliknya, ketika sunyi adalah bunyi.***

 

)* Disampaikan dalam diskusi di Common Room, Kamis, 27 Oktober 2011

Leave a Reply