Ernest Renan, di dalam Nationalism: 1st Meaning and History memaknai nasionalisme sebagai solidaritas tinggi yang tercipta dari sentimen pengorbanan bersama demi sebuah masa depan. Mereka memiliki masa lampau yang melanjutkan diri dalam masa kini dengan membentuk suatu fakta yang jelas, yakni mufakat. Para “penganut nation” ini mempunyai kehendak yang dinyatakan dengan jelas untuk meneruskan kehidupan ...
Opini
MEDIA DAN TATA RUANG BERBANGSA
8:36 08 | 24 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
Kita baru saja keluar dari hiruk-pikuk wacana tentang pentingnya kembali memaknai, memahami, dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa. Di tengah hiruk-pikuk itu, juga sekaligus refleksi, kita pun bersaksi betapa berbagai perilaku anak bangsa yang bertentangan dengan Pancasila tersebut terus terjadi. Kasus Nazaruddin, Safruddin, Nunun Nurbaeti, dan penembakan terhadap anggota polisi hanyalah beberapa contoh yang ...
MELAWAN PERLAWANAN BUDAYA
8:31 08 | 24 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
“…perlawanan budaya terhadap globalisasi yang saat ini sedang melanda seluruh belahan dunia memang telah terwujud”, demikian Noor Janis Langga Barana, dalam tulisannya bertajuk “Perlawanan Budaya Merti Dusun” (KR, 12/3/2006). Apa yang dimaksud dengan (aksi) perlawanan budaya terhadap globalisasi itu tak lain adalah perhelatan budaya tradisional seperti dilakukan di Dukuh XI Onggobayan Ngestiharjo Kasihan Bantul dan ...
PAHLAWAN
9:52 09 | 10 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
Pahlawan tidak pernah dilahirkan, melainkan diciptakan. Ketika kejahatan berkuasa dan merajalela, pahlawan harus diciptakan. Untuk apa? Tidak lain agar kejahatan memiliki lawan. Bukankah sebuah tindakan disebut jahat jika ada pasangan yang berlawanan dengannya, yakni tindakan baik. Dalam logika terbalik: pahlawan tercipta dan eksis sebab ada yang berpredikat sebagai Si Jahat. Begitulah, maka Megamind, penjahat yang ...
SEKOLAH TANPA RUANG BELAJAR
9:28 09 | 10 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
Di sekolah dasar terjadi kasus pencontekan massal. Di sekolah menengah para siswa acap berkelahi. Di perguruan tinggi mahasiswa sering tawuran. Itulah beberapa potret muram sekolah kita. Mengapa hal itu terjadi? Telah banyak pihak yang mengurainya. Tapi, sekolah tetap tidak hengkang dari masalah—yang sering itu-itu juga. Problem Ujian Nasional, misalnya, selalu berulang tiap dilaksanakan. Bagi saya, ...
Koran
JOGJAKARTA, AKHIR MEI 2006
9:07 09 | 24 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
barangkali kita harus terus berguru pada ombak jika hendak tahu makna gelisah barangkali kita harus senantiasa bertapa seperti samudera jika hendak mengerti arti misteri Yogyakarta-Bandung, 2006 Oleh : Acep Iwan Saidi Puisi ini dikutip dari Buku Notasi Pendosa Karya Acep Iwan Saidi hal 48
MEMBAYANGKAN BANDUNG; bagi gunung sampah yang ambruk
8:45 08 | 19 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar
membayangkan Bandung, pagi-pagi ketika berangkat ngantor di sela-sela klakson dan asap motor, aku menghirup bau selokan dan limbah sehitam malam dua orang pengemis melintas di lampu stopan disela umpatan seorang pengamen, “anjrit, pelit sekali!” inilah ritus kota, tercatat di agenda pagi membayangkan Bandung, pagi-pagi bukan nostalgi, tapi harum keringat pohaci memang telah pergi, digerus bulldozer ...
ENDEMISASI PEDAGANG KAKI LIMA
9:02 09 | 15 May 2013 | ditulis oleh : Anggar Erdhina | Komentar
Setiap bepergian kemanapun sudutnya di kota besar, pedagang kaki lima pasti dapat dengan mudah ditemukan. Jumlah pedagang kaki lima di Indonesia bahkan berjumlah ribuan, baik di kota besar maupun kecil. Bagaimanapun kondisi tempatnya, pedagang ini selalu memiliki cara untuk bisa menjual barang ataupun jasanya. Bentuk penafsiran seperti ini memiliki kemiripan dengan apa yang dilakukan oleh ...
Aktivitas
KELAS ISU KONTEMPORER DALAM DESAIN, PASCA SARJANA ITB
9:07 21 | 9 May 2013 | ditulis oleh : AIS | Komentar

